Uncategorized

Filosofi Pep Guardiola Dan Kebebasan Bermain Sepakbola

Taktik itu bisa berjalan sukses dengan menghindari cara bertahan yang terlalu dalam, lalu mencegah untuk melakukan banyak pelanggaran. Bertahan terlalu dalam hanya akan mengundang lawan untuk terus menekan, yang satu-dua kesalahan bisa berisiko jebolnya gawang sendiri. KOMPAS. com – Berbagai macam ulasan teori soal taktik menaklukkan Barcelona kerap disampaikan. Di atas kertas, semua teori terlihat mudah dan bisa dilakukan.

Namun, di lapangan, tidak banyak tim yang mampu menerapkannya meski rencana telah disusun matang. Jose Mourinho sukses menerapkan strategi tersebut saat menangani Inter Milan untuk meredam keagresifan Barcelona pada semifinal Liga Champions.

  • Menempatkan gelandang khusus bertahan, yang dimana mengurangi resiko semua gelandang ikut menyerang tanpa dukungan untuk bertahan. – Membuka resiko dengan dua pemain bertahan jika gelandang tidak segera turun bertahan ketika diserang. + Memanfaatkan lebar lapangan, sangat baik jika memiliki pemain dengan kecepatan dan stamina yang baik. Taktik yang diterapkan Inter Milan dan Timnas Italia kalai itu sama-sama memiliki penyerang berdarah pembunuh di lini serang timnya.

Dikutip dari laporanTelegraph, tidur cukup adalah kunci agar performa Chamberlain di lapangan meningkat. Obi Mikel, yang biasa berperan gelandang bertahan untuk melapis lini belakang, justru sering naik untuk menetralisir sang maestro passing, Xavi Hernandez. Taktik ini, antara lain, yang membuat tiki-taka Barcelona mandul dan mejan. Chelsea bermain dengan tiga gelandang jangkar—Raul Meireles, Frank Lampard, dan John Obi Mikel— plus Juan Mata dan Ramires yang berposisi melebar. Lampard jarang naik dan lebih banyak beroperasi di area timnya.

Selain memiliki sejumlah kemampuan atletik untuk dapat berlari, mengubah arah, dan mempertahankan keseimbangan, pemain membutuhkan keterampilan khusus untuk menjalankan permainan. Begitu juga dengan Alex-Oxlade Chamberlain, gelandang yang sekarang bermain untuk Liverpool.

Saat bermain di kandang sendiri, Inter Milan berhasil mengalahkan Barcelona dengan skor 3-1 tapi dengan penguasaan bola hanya 28, 8 persen. Pelatih asal Portugal itu memilih bermain sepak bola secara pragmatis. Formasi 2-2-2, tidak menampilkan dengan sisi lebar lapangan tetapi sangat kuat di lini tengah dengan 2 gelandang dan 2 penyerang.